SHOPPING CART

close

PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL PEMBELAJARAN AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH PADA KELAS XI PERBANKAN SYARIAH SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Sharing is caring
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Penulis/Peneliti: Muklis Saputra, S.E.Sy

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Dimensi pendidikan yang sangat luas menuntut adanya penyesuaian model pembelajaran agar proses pendidikan dapat dilaksanakan dengan baik, hingga mendapatkan hasil yang maksimal. Model yang dilakukan dapat bervariasi dalam rangka menjangkau semua aspek di dalam pendidikan, yaitu dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa, baik secara terbimbing maupun secara mandiri.
Pendidikan di Indonesia mengacu pada Tujuan Pendidikan Nasional yang tertuang dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Bagian yang menonjol dari Tujuan Pendidikan Nasional pada abad 21 ini adalah lahirnya generasi bangsa yang berilmu, cakap, kreatif, dan mandiri, sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan zaman. Pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran yang bercirikan learning skill, skill, dan literasi. Learning skill yaitu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya ditandai dengan adanya kerja sama, komunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif.
Kegiatan pembelajaran pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah erat kaitannya dengan learning skill, yaitu memerlukan aktivitas kerja sama, komunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif (analitis). Hal ini disebabkan karena pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syairah selalu terdapat unsur-unsur pencatatan transaksi dan penerapan hukum muamalah Islam dalam aktivitas perbankan. Untuk membentuk pemahaman yang kompleks tentang Akuntansi Perbankan Syariah perlu adanya proses kerja sama yang baik, komunikasi yang aktif dan relevan, serta pengalaman menganalisis dalam upaya membiasakan berpikir kritis dan kreatif.
Akuntansi Perbankan Syariah adalah salah satu mata pelajaran produktif pada kompetensi keahlian Perbankan Syariah. Berbeda dengan akuntansi perbankan konvensional, akuntansi perbankan syairah berpedoman pada akuntansi syariah, yaitu proses akuntansi yang berdasarkan pada prinsip-prinsip syariah, baik dalam siklus akuntansinya maupun pencatatannya. Akuntansi syariah berpegang pada prinsip pertanggungjawaban, keadilan, dan kebenaran yang dilandasi oleh nilai-nilai al-quran dan sunah.
Mempelajari Akuntansi Perbankan Syariah mengharuskan siswa mampu menganalisis prinsip-prinsip yang diadopsi bank syariah dari hukum muamalah Islam. Selain itu, siswa juga harus mampu menguasai mekanisme pencatatan transaksinya. Melihat realita bahwa mempelajari Akuntansi Perbankan Syariah membutuhkan tingkat penalaran yang tinggi, maka dibutuhkan model pembelajaran yang interaktif, komunikatif, kreatif, dan mengandung unsur-unsur analisis di dalamnya.
Berdasarkan pengamatan peneliti pada siswa kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro, menunjukkan bahwa minat siswa terhadap mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah cukup rendah. Hal ini dapat dilihat dari kurangnya respon siswa saat menerima materi, daya analisis siswa yang rendah, siswa kurang antusias dalam bertanya, hingga Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK) dengan standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di bawah 50%. Hal ini disebabkan karena guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dalam menyampaikan materi, sehingga pembelajaran terpusat pada guru dan siswa menjadi kurang aktif. Selain itu, siswa juga tidak diberikan pengalaman membuat konsep, menganalisis, dan mengambil kesimpulan, sehingga pemahaman siswa terbatas pada pemahaman tekstual.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah kelas XI SMK Muhammadiyah 1 Metro, maka perlu adanya penerapan model pembelajaran yang tepat yang dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah model pembelajaran yang dapat menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Siswa aktif dan kreatif, komunikatif, interaktif, serta dapat melakukan analisis dan pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi ini adalah model Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).
Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan masalah melalui tahap-tahap model ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah. Model PBL akan memberikan pengalaman membuat konsep, berdiskusi, menganalisis, berkomunikasi, presentasi, hingga menyimpulkan hasil penyelesaian masalah kepada siswa. Dengan model pembelajaran semacam ini, proses pembelajaran akan lebih aktif dan menarik, serta menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran.
Peneliti akan berusaha meningkatkan aktivitas dan hasil belajar pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro dengan mengaplikasikan model Problem Based Learning (PBL) dalam pembelajaran.

B. Identifikasi Masalah
1. kurangnya respon siswa saat menerima materi
2. daya analisis siswa rendah
3. siswa kurang antusias untuk bertanya
4. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di bawah 50%
C. Analisis Masalah
Dalam proses pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadyiah 1 Metro siswa tampak kurang merespon setiap penyampaian materi, tidak diajak menganalisis permasalahan dalam materi (pemahaman hanya sebatas tekstual), ketika dipersilakan mengajukan pertanyaan hanya 2 siswa saja yang mau bertanya, dan ketika dilakukan evaluasi rata-rata nilai di bawah KKM (< 75). Setelah dilakukan analisis pada proses pembelajaran, terlihat bahwa pembelajara terpusat pada guru, sedangkan siswa hanya sebagai pendengar (metode ceramah). Hal ini menyebabkan kebenaran materi hanya ada pada sudut panang, yaitu sudut pandang guru. Siswa hanya diminta memahami sebatas apa yang disampaikan guru, tidak diminta untuk menganalisis kebenaran teori/materi. Tidak ada tantangan dalam proses pembelajaran. Siswa sesekali diminta bertanya, namun tanpa stimulus terlebih dahulu sehingga sebagian besar tidak percaya diri atau bahkan tidak tertarik untuk bertanya.
Dapat disimpulkan bahwa kualitas belajar yang rendah pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro disebabkan oleh penggunaan metode atau model pembelajaran yang terlalu konvensional, yaitu dengan ceramah.
Berdasarkan permasalahan yang terjadi pada pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah kelas XI SMK Muhammadiyah 1 Metro, maka perlu adanya penerapan model pembelajaran yang tepat yang dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Model pembelajaran yang dibutuhkan adalah model pembelajaran yang dapat menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran. Siswa aktif dan kreatif, komunikatif, interaktif, serta dapat melakukan analisis dan pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi ini adalah model Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM).
D. Rumusan Masalah
Apakah penerapan model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Akuntansi Perbankan Syariah pada kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro Tahun Pelajaran 2020/2021?
E. Tujuan Penelitian
Menguji model Problem Based Learning (PBL) dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Akuntansi Perbankan Syariah pada kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro Tahun Pelajaran 2020/2021.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat untuk menambah inovasi penerapan strategi pembelajaran dalam proses pembelajaran mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di sekolah.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru,
Model Problem Based Learning (PBL) dapat dijadikan sebagai alternatif pilihan strategi pembelajaran untuk mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di SMK Muhammadiyah 1 Metro.
b. Bagi siswa,
Aplikasi Problem Based Learning dalam proses pembelajaran dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Akuntansi Perbankan Syariah di SMK Muhammadiyah 1 Metro.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Penelitian Tindakan Kelas
1. Pengertian Penelitian Tindakan Kelas
Penelitian Tindakan Kelas merupakan pengembangan dari penelitian tindakan. Penelitian tindakan (action research) dikembangkan dengan tujuan untuk mencari penyelesaian terhadap masalah sosial. Penelitian tindakan diawali dengan kajian terhadap suatu masalah secara sistematis. Hasil kajian ini dijadikan dasar untuk menyusun suatu rencana kerja (tindakan) sebagai upaya untuk mengatasi masalah tersebut. Kegiatan berikutnya adalah pelaksanaan tindakan dilanjutkan dengan observasi dan evaluasi. Hasil observasi dan evaluasi digunakan sebagai masukkan melakukan refleksi atas apa yang terjadi pada saat pelaksanaan tindakan. Hasil refleksi kemudian dijadikan landasan untuk menentukan perbaikan serta penyempurnaan tindakan selanjutnya.
Menurut Kemmis dan Taggart (1988), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-

situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Hal ini akan mengarahkan tujuan penelitian tindakan ke dalam tiga area yaitu; (1) untuk memperbaiki praktik; (2) untuk pengembangan profesional dalam arti meningkatkan pemahaman para praktisi terhadap praktik yang dilaksana- kannya; serta (3) untuk memperbaiki keadaan atau situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan.
Dalam bidang pendidikan, khususnya dalam praktik pembelajaran, pene- litian tindakan berkembang menjadi Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Reserach (CAR). PTK adalah penelitian tindakan yang dilaksanakan di dalam kelas ketika pembelajaran berlangsung. PTK dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kualitas pembelajaran. PTK berfokus pada kelas atau pada proses pembelajaran yang terjadi di dalam kelas.
Suharsimi (2002) menjelaskan bahwa PTK merupakan gabungan definisi dari tiga kata yaitu “Penelitian” + “Tindakan“ + “Kelas”. Penelitian dapat diartikan sebagai kegiatan mencermati suatu obyek dengan menggunakan cara dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam memecahkan suatu masalah. Tindakan yaitu sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Tindakan yang dilaksanakan dalam PTK berbentuk suatu rangkaian siklus kegiatan. Sedangkan Kelas yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula. Siswa yang belajar tidak hanya terbatas dalam sebuah ruangan kelas saja, melainkan dapat juga ketika siswa sedang melakukan karyawisata, praktikum di laboratorium, atau belajar tempat lain di bawah arahan guru.
Berdasarkan pengertian di atas, komponen yang terdapat dalam sebuah kelas yang dapat dijadikan sasaran PTK adalah siswa, guru, materi pelajaran, peralatan atau sarana pendidikan, hasil pembelajaran (kognigtif, afektik, psikomotor), lingkungan belajar, dan pengelolaan. Seorang guru dapat menemukan masalah penelitian tindakan kelas berdasarkan komponen tersebut. PTK merupakan suatu bentuk penelitian yang melekat pada guru, yaitu mengangkat masalah-masalah aktual yang dialami oleh guru di lapangan. Dengan melaksanakan PTK, diharapkan guru memiliki peran ganda yaitu sebagai praktisi dan sekaligus peneliti. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa PTK adalah suatu kegiatan penelitian yang dilakukan guru di dalam kelasnya dengan permasalahan diperoleh dari kegiatan refleksi diri dan disertai suatu tindakan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah tersebut atau meningkatkan mutu pembelajaran yang dilakukan
2. Langkah-langkah Penelitian Tindakan Kelas
PTK bukan hanya bertujuan mengungkapkan penyebab dari berbagai permasalahan pembelajaran yang dihadapi seperti kesulitan siswa dalam mempelajari pokok-pokok bahasan tertentu, tetapi yang lebih penting lagi adalah memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar. Atas dasar itu, terdapat tiga hal penting dalam pelaksanaan PTK yakni sebagai berikut.
a. PTK adalah penelitian yang mengikutsertakan secara aktif peran guru dan siswa dalam berbagai tindakan.
b. Kegiatan refleksi (perenungan, pemikiran, evaluasi) dilakukan berdasarkan pertimbangan rasional (menggunakan konsep teori) yang mantap dan valid guna melakukan perbaikan tindakan dalam upaya memecahkan masalah yang terjadi.
c. Tindakan perbaikan terhadap situasi dan kondisi pembelajaran dilakukan dengan segera dan dilakukan secara praktis (dapat dilakukan dalam praktik pembelajaran).
Langkah-langkah pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus- siklus berikutnya adalah sebagai berikut: (1) Penetapan fokus permasalahan, (2) Perencanaan tindakan, (3) Pelaksanaan tindakan, (4) Pengumpulan data (pengamatan/observasi), (5) Refleksi (analisis, dan interpretasi), (6) Perencanaan tindak lanjut.
a. Penetapan Fokus Permasalahan
Sebelum suatu masalah ditetapkan/dirumuskan, perlu ditumbuhkan sikap dan keberanian untuk mempertanyakan, misalnya tentang kualitas proses dan hasil pembelajaran yang dicapai selama ini. Sikap tersebut diperlukan untuk menumbuhkan keinginan peneliti memperbaiki kualitas pembelajaran. Tahapan ini disebut dengan tahapan merasakan adanya masalah. Jika dirasakan ada hal- hal yang perlu diperbaiki dapat diajukan pertanyaan seperti di bawah ini.
1) Apakah kompetensi awal siswa yang mengikuti pelajaran cukup memadai?
2) Apakah proses pembelajaran yang dilakukan cukup efektif?
3) Apakah sarana pembelajaran cukup memadai?
4) Apakah hasil pembelajaran cukup berkualitas?
5) Bagaimana melaksanakan pembelajaran dengan strategi inovatif tertentu?
Secara umum karaktersitik suatu masalah yang layak diangkat untuk PTK adalah sebagai berikut:
1) Masalah itu menunjukkan suatu kesenjangan antara teori dan fakta empirik yang dirasakan dalam proses pembelajaran. Apabila hal ini terjadi, guru merasa prihatin atas terjadinya kesenjangan, timbul kepedulian dan niat untuk mengurangi tersebut dan berkolaborasi dengan dosen/widyaiswara/pengawas untuk melaksanakan PTK.
2) Masalah tersebut memungkinkan untuk dicari dan diidentifikasi faktor-faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut menjadi dasar atau landasan untuk menentukan alternatif solusi.
3) Adanya kemungkinan untuk dicarikan alternatif solusi bagi masalah tersebut melalui tindakan nyata yang dapat dilakukan guru/peneliti.

Dianjurkan agar masalah yang dipilih untuk diangkat sebagai masalah PTK adalah yang memiliki nilai yang bukan sesaat, tetapi memiliki nilai strategis bagi keberhasilan pembelajaran lebih lanjut dan memungkinkan diperolehnya model tindakan efektif yang dapat dipergunakan untuk memecahkan masalah serumpun. Pertanyaan yang dapat diajukan untuk menguji kelayakan masalah yang dipilih antara lain seperti di bawah ini.
1) Apakah masalah yang dirasakan secara jelas teridentifikasi dan terformulasikan dengan benar?
2) Apakah ada masalah lain yang terkait dengan masalah yang akan dipecahkan?
3) Apakah ada bukti empirik yang memperlihatkan nilai guna untuk perbaikan praktik pembelajaran jika masalah tersebut dipecahkan?
Pada tahap selanjutnya dilakukan identifikasi masalah yang sangat menarik perhatian. Aspek penting pada tahap ini adalah menghasilkan gagasan- gagasan awal mengenai permasalahan aktual yang dialami dalam pembelajaran. Tahap ini disebut identifikasi permasalahan. Cara melakukan identifikasi masalah antara lain sebagai berikut.
1) Menuliskan semua hal (permasalahan) yang perlu diperhatikan karena akan mempunyai dampak yang tidak diharapkan terutama yang berkaitan dengan pembelajaran.
2) Memilah dan mengklasifikasikan permasalahan menurut jenis/bidangnya, jumlah siswa yang mengalaminya, serta tingkat frekuensi timbulnya masalah tersebut.
3) Mengurutkan dari yang ringan, jarang terjadi, banyaknya siswa yang mengalami untuk setiap permasalahan yang teridentifikasi.

4) Dari setiap urutan diambil beberapa masalah yang dianggap paling penting untuk dipecahkan sehingga layak diangkat menjadi masalah PTK. Kemudian dikaji kelayakannya dan manfaatnya untuk kepentingan praktis, metodologis maupun teoretis.
Setelah memperoleh sederet permasalahan melalui identifikasi, dilanjutkan dengan analisis untuk menentukan kepentingan. Analisis terhadap masalah juga dimaksudkan untuk mengetahui proses tindak lanjut perbaikan atau pemecahan yang dibutuhkan. Adapun yang dimaksud dengan analisis masalah disini ialah kajian terhadap permasalahan dilihat dari segi kelayakannya. Sebagai acuan dapat diajukan antara lain pertanyaan sebagai berikut.
1) Bagaimana konteks, situasi atau iklim di mana masalah terjadi?
2) Apa kondisi-kondisi prasyarat untuk terjadinya masalah?
3) Bagaimana keterlibatan masing-masing komponen dalam terjadinya masalah?
4) Bagaimana kemungkinan alternatif pemecahan yang dapat diajukan?
5) Bagaimana ketepatan waktu, lama atau durasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah?
Analisis masalah dipergunakan untuk merancang tindakan baik dalam bentuk spesifikasi tindakan, keterlibatan peneliti, waktu dalam satu siklus, indikator keberhasilan, peningkatan sebagai dampak tindakan, dan hal-hal yang terkait lainya dengan pemecahan yang diajukan.
Pada tahap selanjutnya, masalah-masalah yang telah diidentifikasi dan ditetapkan dirumuskan secara jelas, spesifik, dan operasional. Perumusan masalah yang jelas memungkinkan peluang untuk pemilihan tindakan yang tepat. Contoh rumusan masalah yang mengandung tindakan alternatif yang ditempuh antara lain sebagai berikut :
1) Apakah strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis?
2) Apakah pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
3) Apakah penyampaian materi dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran?
4) Apakah penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS?
Dalam memformulasikan masalah, peneliti perlu memperhatikan beberapa ketentuan yang biasa berlaku meliputi hal-hal di bawah ini:
1) Aspek substansi menyangkut isi yang terkandung, perlu dilihat dari bobot atau nilai kegunaan manfaat pemecahan masalah melalui tindakan seperti nilai aplikatifnya untuk memecahkan masalah serupa yang dihadapi guru, kegunaan metodologi dan kegunaan teori dalam memperkaya keilmuan pendidikan/pembelajaran.
2) Aspek orisinalitas (tindakan), yang menunjukan bahwa pemecahan dengan model tindakan itu merupakan suatu hal baru yang belum pernah dilakukan guru sebelumnya.
3) Aspek formulasi, dalam hal ini masalah dirumuskan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Rumusan masalah harus dinyatakan secara lugas dalam arti eksplisit dan spesifik tentang apa yang akan dipermasalahkan serta tindakan yang diharapkan dapat mengatasi masalah tersebut.
4) Aspek teknis, menyangkut kemampuan dan kelayakan peneliti untuk melakukan penelitian terhadap masalah yang dipilih. Pertimbangan yang dapat diajukan seperti kemampuan teoretik dan metodologik pembelajaran, penguasaan materi ajar, teori, strategi dan metodologi pembelajaran, kemampuan fasilitas untuk melakukan PTK (dana, waktu, dan tenaga). Oleh karena itu, disarankan bagi peneliti untuk berangkat dari permasalahan sederhana tetapi bermakna, memiliki nilai praktis bagi guru dan semua yang berkolaborasi dapat memperoleh pengalaman belajar dalam rangka pengembangan keprofesionalannya.
b. Perencanaan Tindakan
Setelah masalah dirumuskan secara operasional, perlu dirumuskan alternatif tindakan yang akan diambil. Alternatif tindakan yang dapat diambil dapat dirumuskan ke dalam bentuk hipotesis tindakan dalam arti dugaan mengenai perubahan yang akan terjadi jika suatu tindakan dilakukan. Perencanaan tindakan memanfaatkan secara optimal teori-teori yang relevan dan pengalaman yang diperoleh di masa lalu dalam kegiatan pembelajaran/penelitian sebidang. Bentuk umum rumusan hipotesis tindakan berbeda dengan hipotesis dalam penelitian formal.
Hipotesis tindakan umumnya dirumuskan dalam bentuk keyakinan tindakan yang diambil akan dapat memperbaiki sistem, proses, atau hasil. Hipotesis tindakan sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkan dapat dicontohkan seperti di bawah ini:
1) Strategi pembelajaran menulis yang berorientasi pada proses dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis.
2) Pembelajaran berorientasi proses dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
3) Penyampaian materi dengan menggunakan LKS dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.
4) Penggunaan strategi pembelajaran inkuiri dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran IPS.
Secara rinci, tahapan perencanaan tindakan terdiri atas kegiatan-kegiatan sebagai berikut.
1) Menetapkan cara yang akan dilakukan untuk menemukan jawaban, berupa rumusan hipotesis tindakan. Umumnya dimulai dengan menetapkan berbagai alternatif tindakan pemecahan masalah, kemudian dipilih tindakan yang paling menjanjikan hasil terbaik dan yang dapat dilakukan guru.
2) Mentukan cara yang tepat untuk menguji hipotesis tindakan dengan menjabarkan indikator-indikator keberhasilan serta instrumen pengumpul data yang dapat dipakai untuk menganalisis indikator keberhasilan itu.
3) Membuat secara rinci rancangan tindakan yang akan dilaksanakan mencakup; (1) Bagian isi mata pelajaran dan bahan belajarnya; (2) Merancang strategi dan skenario pembelajaran sesuai dengan tindakan yang dipilih; serta (3) Menetapkan indikator ketercapaian dan menyusun instrumen pengumpul data.
c. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahapan ini, rancangan strategi dan skenario pembelajaran diterapkan. Skenario tindakan harus dilaksanakan secara benar tampak berlaku wajar. Pada PTK yang dilakukan guru, pelaksanaan tindakan umumnya dilakukan dalam waktu antara 2 sampai 3 bulan. Waktu tersebut dibutuhkan untuk dapat menyesaikan sajian beberapa pokok bahasan dan mata pelajaran tertentu. Berikut disajikan contoh aspek-aspek rencana (skenario) tindakan yang akan dilakukan pada satu PTK.
1) Dirancang penerapan metode tugas dan diskusi dalam pembelajaran X untuk pokok bahasan : A, B, C, dan D.
2) Format tugas: pembagian kelompok kecil sesuai jumlah pokok bahasan, pilih ketua, sekretaris, dll oleh dan dari anggota kelompok, bagi topik bahasan untuk kelompok dengan cara random, dengan cara yang menyenangkan.
3) Kegiatan kelompok; mengumpulkan bacaan, melalui diskusi anggota kelompok bekerja/ belajar memahami materi, menuliskan hasil diskusi dalam OHP/PPt untuk persiapan presentasi.
4) Presentasi dan diskusi pleno; masing-masing kelompok menyajikan hasil kerjanya dalam pleno kelas, guru sebagai moderator, lakukan diskusi, ambil kesimpulan sebagai hasil pembelajaran.
5) Jenis data yang dikumpulkan; berupa makalah kelompok, lembar hasil kerja kelompok, siswa yang aktif dalam diskusi, serta hasil belajar yang dilaksanakan sebelum (pre tes) dan setelah (post tes) tindakan dilaksanakan.
d. Pengamatan/Observasi dan Pengumpulan Data
Tahapan ini sebenarnya berjalan secara bersamaan pada saat pelaksa naan tindakan. Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan sedang berjalan, keduanya berlangsung dalam waktu yang sama. Pada tahapan ini, peneliti (atau guru apabila ia bertindak sebagai peneliti) melakukan pengamatan dan mencatat semua hal-hal yang diperlukan dan terjadi selama pelaksanaan tindakan berlangsung. Pengumpulan data ini dilakukan dengan menggunakan format observasi/penilaian yang telah disusun. Termasuk juga pengamatan secara cermat pelaksanaan skenario tindakan dari waktu ke waktu dan dampaknya terhadap proses dan hasil belajar siswa. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (hasil tes, hasil kuis, presensi, nilai tugas, dan lain-lain), tetapi juga data kualitatif yang menggambarkan keaktifan siswa, atusias siswa, mutu diskusi yang dilakukan, dan lain-lain.
Instrumen yang umum dipakai adalah (a) soal tes, kuis; (b) rubrik; (c) lembar observasi; dan (d) catatan lapangan yang dipakai untuk memperoleh data secara obyektif yang tidak dapat terekam melalui lembar observasi, seperti aktivitas siswa selama pemberian tindakan berlangsung, reaksi mereka, atau pentunjuk- petunjuk lain yang dapat dipakai sebagai bahan dalam analisis dan untuk keperluan refleksi.
Sebagai contoh pada satu usulan PTK akan dikumpulkan data seperti: (a) skor tes essai; (b) skor kualitas (kualitatif) pelaksanaan diskusi dan jumlah pertanyaan dan jawaban yang terjadi selama proses pembelajaran; serta (c) hasil observasi dan catatan lapangan yang berkaitan dengan kegiatan siswa.
Berdasarkan data-data yang akan dikumpulkan seperti di atas, maka akan dipakai instrumen; (a) soal tes yang berbentuk essai; (b) pedoman dan kriteria penilaian/skoring baik dari tes essai maupun untuk pertanyaan dari jawaban lisan
selama diskusi; (c) lembar observasi guna memperoleh data aktivitas diskusi yang diskor dengan rubrik; dan (d) catatan lapangan.
Data yang dikumpulkan hendaknya dicek untuk mengetahui keabsahannya. Berbagai teknik dapat dilakukan untuk tujuan ini, misalnya teknik triangulasi dengan cara membandingkan data yang diperoleh dengan data lain, atau kriteria tertentu yang telah baku, dan lain sebagainya. Data yang telah terkumpul memerlukan analisis lebih lanjut untuk mempermudah penggunaan maupun dalam penarikan kesimpulan. Untuk itu berbagai teknik analisis statistika dapat digunakan.
e. Refleksi
Tahapan ini dimaksudkan untuk mengkaji secara menyeluruh tindakan yang telah dilakukan, berdasar data yang telah terkumpul, dan kemudian melakukan evaluasi guna menyempurnakan tindakan yang berikutnya. Refleksi dalam PTK mencakup analisis, sintesis, dan penilaian terhadap hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Jika terdapat masalah dan proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang melalui siklus berikutnya yang meliputi kegiatan: perencanaan ulang, tindakan ulang, dan pengamatan ulang sehingga permasalahan yang dihadapi dapat teratasi.
f. Kesimpulan
Penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian refleksi diri yang dilakukan oleh para partisipan dalam situasi-situasi sosial (termasuk pendidikan) untuk memperbaiki praktik yang dilakukan sendiri. Dengan demikian, akan diperoleh pemahaman yang komprehensif mengenai praktik dan situasi di mana praktik tersebut dilaksanakan. Terdapat dua hal pokok dalam penelitian tindakan yaitu perbaikan dan keterlibatan. Sedangkan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), merupakan penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru didalam kelasnya dan bertujuan untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran yang dihadapi. PTK memberikan pemecahan masalah berupa tindakan tertentu untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar.
PTK dilakukan minimal dua siklus, dan setiap siklusnya terdiri perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Dalam melaksanakan PTK dapat dilkukan oleh guru sendiri maupun berkolaborasi dengan orang lain.
B. Problem Based Learning (PBL)
1. Pengertian
Belajar berdasarkan masalah adalah interaksi antara stimulus dan respon, merupakan hubungan antara dua arah belajar dan lingkungan. Lingkungan memberikan masukan kepada peserta didik berupa bantuan dan masalah, sedangkan sistem saraf otak berfungsi menafsirkan bantuan itu secara efektif sehingga masalah yang dihadapi dapat diselidiki, dinilai, dianalisis, serta dicari pemecahannya dengan baik.
Pembelajaran Berbasis Masalah yang berasal dari bahasa Inggris Problem- Based Learning adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan menyelesaikan suatu masalah, tetapi untuk menyelesaikan masalah itu peserta didik memerlukan pengetahuan baru untuk dapat menyelesaikannya. Dengan demikian strategi pembelajaran Problem-Based Learning adalah strategi yang dimulai dengan: 1) Kegiatan kelompok, yaitu membaca kasus; menentukan masalah mana yang paling relevan dengan tujuan pembelajaran; membuat rumusan masalah; membuat hipotesis mengidentifikasi sumber imformasi, diskusi, dan pembagian tugas; dan melaporkan, mendiskusikan penyelesaian masalah yang mungkin, melaporkan kemajuan yang akan dicapai setiap anggota kelompok, serta presentasi di kelas; 2) Kegiatan perorangan, yaitu siswa melakukan kegiatan membaca berbagai sumber, meneliti, dan menyampaikan temuan; dan 3) kegiatan dikelas, yaitu mempresentasikan laporan, dan diskusi antar kelompok dibawah bimbingan guru. Dari tiga kegiatan kelompok, perorangan maupun kelas yang merupakan faktor utama dalam strategi pembelajaran dengan Problem Based Learning adalah pada rumusan masalah yang ada.
Problem Based Learning merupakan model pembelajaran dengan menghadapkan peserta didik pada permasalahan-permasalahan praktis sebagai pijakan dalam belajar atau dengan kata lain peserta didik belajar melalui permasalahan-permasalahan yang selanjutnya dicari solusi untuk menyelesaikannya. Pengertian Problem Based Learning lainnya adalah cara penyajian pelajaran dengan memanfaatkan permasaahan yang ditemui anak yang digunakan sebagai bahan pelajaran yang kemudian permasalahan tersebut dibahas atau didiskusikan bersama untuk mendapatkan penyelesaiian atau jalan keluarnya.
Berdasarakan pengertian Problem Based Learning di atas penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa model Problem Based Learning ini menuntut agar para peserta didik aktif, kreatif, berinisiatif, berinovasi, serta mempunyai motivasi dalam belajar. Model pembelajran Problem Based Learning terfokus pada kegiatan peserta didik yang mandiri, sementara guru hanya menjadi desainer, fasilitator, motivator dalam kegiatan belajar tersebut.
a. Ciri-ciri
1) Strategi pembelajaran berbasis masalah merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam pembelajaran ini tidak mengharapkan peserta didik hanya sekedar mendengarkan, mencatat kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui strategi pembelajaran berbasis masalah peserta didik aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data dan akhirnya menyimpulkannya.
2) Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. Strategi pembelajaran berbasis masalah menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran.
3) Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris, sistematis artinya berpikir ilmiah dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu, sedangkan empiris artinya proses penyelesaian masalah didasarkan pada data dan fakta yang jelas.
Menurut Baron ciri-ciri model Problem Based Learning adalah sebagai berikut: 1) menggunakan permasalahan dalam dunia nyata, 2) pembelajaran dipusatkan pada penyelesaian masalah, 3) tujuan pembelajaran ditentukan oleh siswa, dan 4) guru berperan sebagai fasilitator.
b. Komponen-komponen
Komponen-komponen pembelajaran berbasis masalah dikemukakan oleh Arends, diantaranya adalah:
1) Permasalahan autentik. Model pembelajaran berbasis masalah mengorganisasikan masalah nyata yang penting secara sosial dan bermanfaat bagi peserta didik. Permasalahan yang dihadapi peserta didik dalam dunia nyata tidak dapat dijawab dengan jawaban yang sederhana.
2) Fokus interdisipliner. Dimaksudkan agar peserta didik belajar berpikir struktural dan belajar menggunakan berbagai perspektif keilmuan.
3) Pengamatan autentik. Hal ini dimaksudkan untuk menemukan solusi yang nyata. Peserta didik diwajibkan untuk menganalisis dan menetapkan masalahnya, mengembangkan hipotesis dan membuat prediksi, mengumpulkan dan menganalisis informasi, melaksanakan eksperimen, membuat inferensi, dan menarik kesimpulan.

C. Akuntansi Perbankan Syairah
Akuntansi Perbankan syariah adalah sebuah seni mencatat, mengklasifikasi, meringkas, melaporkan dan menganalisa dengan cara tertentu dan dalam ukuran moneter, transaksi dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan berdasarkan nilai-nilai syariah yang bertujuan memberikan informasi kuantitatif yang bersifat finansial mengenai suatu bisnis keuangan perbankan syariah sebagai dasar pengambilan keputusan bagi pemakainya.
Definisi akuntansi perbankan syariah tidak jauh bebeda dengan definisi akuntansi syariah dan akuntansi konvensional, hanya menambah kata perbankan yang menjadi obyek pembicaraan. Bisnis perbankan syariah adalah merupakan bisnis jasa keuangan, bukan bisnis perusahaan barang. Perusahaan perbankan syariah sangat unik dan berbeda dengan perusahaan barang lainnya, karena dunia perbankan, baik itu perbankan syariah dan selain syariah diatur peraturan yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sebagai bank sentral yang dinyatakan dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI).
Pada perbankan syariah diatur oleh 2 (dua) kepatuhan, yaitu kepatuhan syariah yang dituangkan fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN), dan kepatuhan oprasional yang dituangkan dalam Peraturan Bank Indosesia. Dua kepatuhan ini harus seiring dan selaras dalam menjalankan bisnis perbankan.
Seiring perkembangan zaman, kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten di bidang akuntansi perbankan syairah menjadi meningkat seiring berkembangnya bank syariah. Kebutuhan akan SDM inilah yang menjadi landasan berdirinya kompetensi keahlian Perbankan Syariah di tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Akuntansi Perbankan Syariah menjadi salah satu mata pelajaran produktif pada Kompetensi Keahlian Perbankan Syariah.

D. Kerangka Berpikir
Hasil observasi yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro belum berjalan secara optimal. Siswa kurang responsif terhadap penyampaian materi, jarang yang bertanya, memiliki daya analisis yang rendah terhadap materi, dan KKM di bawah 50 %.
Model pembelajaran yang digunakan pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah masih konvensional, sehingga kurang menarik minat siswa. Oleh sebab itu, perlu dilakukan suatu upaya pemecahan masalah melalui penerapan strategi pembelajaran yang berpusat pada siswa agar pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah dapat meningkat. Alternatif pembelajaran yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Strategi Problem Based Leraning (PBL).
Strategi Problem Based Learning menekankan pada kemampuan siswa untuk berpikir analitis, kritis, sistematis, dan logis untuk menemukan alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka menumbuhkan sikap ilmiah. Penggunaan Strategi Problem Based Learning membantu siswa untuk mengembangkan pengetahuan baru dan bertanggung jawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan. Dengan penggunaan Strategi Problem Based Learning pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syairah diharapkan dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran yang berimbas pada terciptanya pembelajaran yang menarik dan Indikator Pencapaian Kompetensi dapat tercapai.

E. Hipotesis
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan, dapat diambil hipotesis bahwa ‘Aplikasi Model Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro tahun pelajaran 2020/2021.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro.
B. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Penelitian dilakukan di SMK Muhammadiyah 1 Metro pada bulan Oktober 2020.
C. Deskripsi Per Siklus
1. Siklus I
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan merupakan pelaksanaan dari perencanaan yang sebelumnya telah disusun. Guru melaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning.
c. Pengamatan Tindakan

Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan kelas sedang berlangsung dengan melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang telah terjadi di dalam kelas.
d. Refleksi Tindakan
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Peneliti melakukan refleksi melalui analisis terhadap tindakan yang sudah dilakukan sehingga diperoleh kesimpulan tentang keberhasilan maupun kekurangan dari penerapan model Problem Based Learning. Berdasarkan dari hasil refleksi, peneliti menyusun rencana pemecahan masalah untuk memperbaiki kegiatan yang belum maksimal.
2. Siklus II
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
6) Menyusun rencana perbaikan bagian yang belum maksimal pada siklus 1
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan merupakan pelaksanaan dari perencanaan yang sebelumnya telah disusun. Guru melaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning dengan memperhatikan bagian-bagian yang belum terlaksana secara maksimal pada siklus 1.
c. Pengamatan Tindakan
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan kelas sedang berlangsung dengan melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang telah terjadi di dalam kelas.
d. Refleksi Tindakan
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Peneliti melakukan refleksi melalui analisis terhadap tindakan yang sudah dilakukan sehingga diperoleh kesimpulan tentang keberhasilan maupun kekurangan dari penerapan model Problem Based Learning. Berdasarkan dari hasil refleksi, peneliti menyusun rencana pemecahan masalah untuk memperbaiki kegiatan yang belum maksimal.
3. Siklus III
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
6) Menyusun rencana perbaikan bagian yang belum maksimal pada siklus 1
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses tindakan merupakan pelaksanaan dari perencanaan yang sebelumnya telah disusun. Guru melaksanakan tindakan pembelajaran dengan menggunakan model Problem Based Learning dengan memperhatikan bagian-bagian yang belum terlaksana secara maksimal pada siklus 1.
c. Pengamatan Tindakan
Pengamatan dilakukan pada waktu tindakan kelas sedang berlangsung dengan melakukan pengamatan dan mencatat semua hal yang telah terjadi di dalam kelas.
d. Refleksi Tindakan
Data yang diperoleh dari hasil pengamatan kemudian dilakukan analisis dan refleksi. Peneliti melakukan refleksi melalui analisis terhadap tindakan yang sudah dilakukan sehingga diperoleh kesimpulan tentang keberhasilan maupun kekurangan dari penerapan model Problem Based Learning. Berdasarkan dari hasil refleksi, peneliti menyusun rencana pemecahan masalah untuk memperbaiki kegiatan yang belum maksimal.

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Profil SMK Muhammadiyah 1 Metro
SMK Muhammadiyah 1 Metro didirikan pada tanggal 24 Juli 1974 oleh Yayasan Muhammadiyah 1 Cabang Metro dengan Akte Yayasan Nomor: 23628/1974 dan Surat Keputusan Yayasan Nomor: 519/II-015/LP-76/1977. Pada awal berdirinya tahun 1974 sampai tahun 1997, SMK Muhammadiyah 1 Metro bernama SMEA Muhammadiyah 1 Metro, yang menempati gedung komplek Muhammadiyah di Jl. KH. Ahmad Dahlan No. 1 Metro, dan sejak tanggal 17 Agustus 1997 SMEA Muhammadiyah 1 Metro berubah nama menjadi SMK Muhammadiyah 1 Metro, sekaligus pindah lokasi di komplek Muhammadiyah IV yang memiliki bangunan/gedung baru di atas tanah seluas 5600m² berlokasi di Jl. Tawes 21 Polos Yosodadi Metro Timur Kota Metro.
SMK Muhammadiyah 1 Metro menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di Bidang Bisnis dan Manajemen dengan 6 Program Keahlian, yaitu Bisnis Daring dan Pemasaran, Akuntansi dan Keuangan Lembaga, Otomatisasi dan Tata Kelola Perkantoran, Teknik Komputer dan Jaringan, Perbankan Syariah, dan Desain Komunikasi Visual.
SMK Muhammadiyah 1 Metro memiliki siswa yang berjumlah 513 siswa yang terdiri dari 186 siswa kelas X, 178 siswa kelas XI, dan 149 siswa kelas XII. Untuk kelas XI Perbankan Syariah memiliki jumlah siswa sebanyak 22 siswa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 16 perempuan. Kelas XI Perbankan Syariah memperoleh mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah sebanyak 6 jam pelajaran setiap minggunya pada hari Jumat.
2. Pelaksanaan Strategi Problem Based Learning
Rencana pelaksanaan model Problem Based Learning di kelas XI Perbankan Syariah adalah sebagai berikut:
1) Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
2) Membentuk kelompok pada kelas XI Perbankan Syariah
Tabel 1. Pembagian Kelompok kelas XI Perbankan Syariah
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Ahmad Samba Wijaya
Alfi Azizatus Sholekha
Andi Kurniawan
Richa Andriani Andre Kurniawan
Astrid Meylita
Dina Uswati R.
Santi Edwin Maulana
Ega Ramadani
Eliana Dwi Rahmawati
Shinta Amelia
Kelompok 4 Kelompok 5 Kelompok 6
Ikhsan Handika Putra
Intan Febiyani
Irma Saptawati Ningsih
Vindi Septiani Izmi Fajarika
Lia Ayu Wulandari
Nita Safitri Rara Presila
Reni Fitriana Putri
Restike Wiranata Putri

3) Menyusun materi pembelajaran
4) Menyusun soal diskusi
5) Menyusun soal pre test dan post test
3. Hasil Pembelajaran Akuntansi Perbankan Syariah
1) Hasil Observasi (Keaktifan Siswa)
a) Siklus 1
No Hal yang Diamati Skor
Siswa 1 2 3 4
1 Siswa aktif bertanya √
2 Siswa aktif berdiskusi √
3 Siswa aktif menyusun konsep √
4 Siswa aktif menganalisis √
5 Siswa aktif memecahkan masalah √
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah √
7 Siswa tenang mendengar penjelasan √
8 Siswa fokus √
9 Siswa antusias √
10 Siswa mengerjakan semua tugas √
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi √
Total Skor = 29

Keterangan Skor:
4 : Sangat Baik
3 : Baik
2 : Tidak Baik
1 : Sangat Tidak Baik

Skor tertinggi: 44

Predikat: K
Nilai Predikat
86 – 100 Amat Baik ( A)
70 – 85 Baik (B)
< 70 Kurang (K)

b) Siklus 2
No Hal yang Diamati Skor
Siswa 1 2 3 4
1 Siswa aktif bertanya √
2 Siswa aktif berdiskusi √
3 Siswa aktif menyusun konsep √
4 Siswa aktif menganalisis √
5 Siswa aktif memecahkan masalah √
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah √
7 Siswa tenang mendengar penjelasan √
8 Siswa fokus √
9 Siswa antusias √
10 Siswa mengerjakan semua tugas √
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi √
Total Skor = 29

Keterangan Skor:
4 : Sangat Baik
3 : Baik
2 : Tidak Baik
1 : Sangat Tidak Baik

Skor tertinggi: 44

Predikat: K
Nilai Predikat
86 – 100 Amat Baik ( A)
70 – 85 Baik (B)
< 70 Kurang (K)

c) Siklus III
No Hal yang Diamati Skor
Siswa 1 2 3 4
1 Siswa aktif bertanya √
2 Siswa aktif berdiskusi √
3 Siswa aktif menyusun konsep √
4 Siswa aktif menganalisis √
5 Siswa aktif memecahkan masalah √
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah √
7 Siswa tenang mendengar penjelasan √
8 Siswa fokus √
9 Siswa antusias √
10 Siswa mengerjakan semua tugas √
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi √
Total Skor = 29

Keterangan Skor:
4 : Sangat Baik
3 : Baik
2 : Tidak Baik
1 : Sangat Tidak Baik

Skor tertinggi: 44

Predikat: K
Nilai Predikat
86 – 100 Amat Baik ( A)
70 – 85 Baik (B)
< 70 Kurang (K)

2) Hasil Penilaian Tes (Hasil Belajar)
SIKLUS JUMLAH NILAI JUMLAH TUNTAS
Pre Test Post Test
Siklus 1 390 540 5
Siklus 2 300 480 4
Siklus 3 610 760 5

B. ANALISIS DATA
Hasil dari Penelitian Tindakan Kelas ini adalah sebagai berikut:
1. Siklus 1
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses pembelajaran dilaksanakan pada hari Kamis, 22 Oktober 2020 dimulai pukul 09.00. Karena sulitnya jaringan, pembelajaran yang dijadwalkan selesai pada pukul 13.30, justru selesai pada pukul 16.30. Pembelajaran dihadiri oleh 10 siswa pada sinkron pembukaan, akan tetapi karena kendala jaringan dan kuota internet siswa terus berkurang hingga hanya dihadiri 7 siswa. 3 siswa izin dan 12 siswa tidak hadir tanpa keterangan.
Pada pembelajaran siklus 1 guru mengajar sesuai dengan RPP yang disusun peneliti, yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup.
c. Pengamatan Tindakan
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus I, dapat diuraikan analisis data sebagai berikut:
1) Keaktifan Siswa

No ASPEK PRESENTASE
1 Siswa aktif bertanya 25%
2 Siswa aktif berdiskusi 50%
3 Siswa aktif menyusun konsep 50%
4 Siswa aktif menganalisis 50%
5 Siswa aktif memecahkan masalah 50%
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah 75%
7 Siswa tenang mendengar penjelasan 100%
8 Siswa fokus 100%
9 Siswa antusias 75%
10 Siswa mengerjakan semua tugas 75%
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi 75%
Rata-rata keaktifan siswa = 66%
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa model pemebelajaran Problem Based Learning belum dapat meningkatkan keaktifan siswa pada siklus 1 mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah.

2) Hasil Belajar Siswa

Kategori Nilai Pre-test Post-test
Frekuensi % Frekuensi %
n≥75 0 5 71
n<75 7 100 2 29
Jumlah 7 100 7 100
Rata-rata nilai 55,7 77,1
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa model Problem Based Learning belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena jumlah siswa yang lulus belum mencapai 75% sesuai yang ditargetkan.
d. Refleksi Tindakan
Penerapan model Promblem Based Learning pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro telah berjalan dengan baik ditandai dengan terlaksananya tiap tahapan yang direncanakan. Akan tetapi dalam praktiknya banyak terjadi kendala, terutama kendala pada koneksi dan kuota internet yang menyebabkan siswa yang hadir hanya 31%.
Dalam proses pembelajaran, siswa kurang aktif bertanya. Hanya terdapat 1 siswa yang bertanya. Hal ini disebabkan karena siswa kurang percaya diri untuk bertanya. Pada proses kerja kelompok sudah berjalan dengan baik, meskipun ada kelompok yang belum menuntaskan penyelesaian masalah. Hasil belajar siswa masih di bawah 75%.
Melihat kekurangan-kekurang pada proses pembelajaran siklus 1, maka akan dilakukan beberapa tindakan, yaitu:
1) Guru meyakinkan siswa agar tidak perlu malu untuk bertanya
2) Guru menginstruksikan pada siswa agar mempersiapkan koneksi internet jauh-jauh hari sebelum pertemuan selanjutnya
3) Guru memberikan semangat pada siswa untuk meningkatkan daya analisis dengan memperbanyak referensi dan diskusi di luar mata pelajaran
2. Siklus 2
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses pembelajaran dilaksanakan pada hari Senin, 02 November 2020 dimulai pukul 09.00. Karena sulitnya jaringan, pembelajaran yang dijadwalkan selesai pada pukul 13.30, justru selesai pada pukul 16.30 seperti pada siklus 1. Pembelajaran dihadirii oleh 7 siswa pada sinkron pembukaan, akan tetapi karena kendala jaringan dan kuota internet siswa terus berkurang hingga hanya dihadiri 3. Sehingga diputuskan untuk melanjutkan pembelajaran secara asinkron. Pada pembelajaran asinkron hingga akhir pembelajaran siswa yang mengikuti pembelajaran berjumlah 9 siswa.
Pada pembelajaran siklus 2 guru mengajar sesuai dengan RPP yang disusun peneliti, yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup sebagaimana pada siklus 1.
c. Pengamatan Tindakan
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus 2, dapat diuraikan analisis data sebagai berikut:
1) Keaktifan Siswa

No ASPEK PRESENTASE
1 Siswa aktif bertanya 25%
2 Siswa aktif berdiskusi 50%
3 Siswa aktif menyusun konsep 50%
4 Siswa aktif menganalisis 50%
5 Siswa aktif memecahkan masalah 50%
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah 75%
7 Siswa tenang mendengar penjelasan 100%
8 Siswa fokus 100%
9 Siswa antusias 75%
10 Siswa mengerjakan semua tugas 75%
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi 75%
Rata-rata keaktifan siswa = 66%
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa model pemebelajaran Problem Based Learning belum dapat meningkatkan keaktifan siswa pada siklus 2 mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah.
3. Siklus 3
a. Perencanaan Tindakan
Pada tahap ini dilakukan berbagai persiapan dan perencanaan yaitu:
1) Menyusun atau membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan menggunakan Strategi Problem Based Learning
2) Menyiapkan dan membuat sumber pelajaran yang akan diajarkan.
3) Membuat lembar observasi
4) Menyusun soal untuk pre-test dan post-test.
5) Mempersiapkan soal diskusi siswa
b. Pelaksanaan Tindakan
Proses pembelajaran dilaksanakan pada hari Jumat, 13 November 2020 dimulai pukul 09.00 sampai pukul 11.30. Pembelajaran dihadirii oleh 12 siswa hingga akhir pembelajaran.
Pada pembelajaran siklus 3 guru mengajar sesuai dengan RPP yang disusun peneliti, yang terdiri dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan kegiatan penutup sebagaimana pada siklus 2.
c. Pengamatan Tindakan
Berdasarkan pengamatan pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dilakukan pada siklus 3, dapat diuraikan analisis data sebagai berikut:
1) Keaktifan Siswa

No ASPEK PRESENTASE
1 Siswa aktif bertanya 25%
2 Siswa aktif berdiskusi 75%
3 Siswa aktif menyusun konsep 75%
4 Siswa aktif menganalisis 50%
5 Siswa aktif memecahkan masalah 50%
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah 75%
7 Siswa tenang mendengar penjelasan 75%
8 Siswa fokus 75%
9 Siswa antusias 75%
10 Siswa mengerjakan semua tugas 75%
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi 75%
Rata-rata keaktifan siswa = 66%
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa model pemebelajaran Problem Based Learning belum dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa pada siklus 3 mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah.
2) Hasil Belajar Siswa

Kategori Nilai Pre-test Post-test
Frekuensi % Frekuensi %
n≥75 2 20 5 41
n<75 10 80 7 59
Jumlah 12 100 9 100
Rata-rata nilai 51 63
Sumber: Data primer yang diolah
Berdasarkan data di atas diketahui bahwa model Problem Based Learning belum dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena jumlah siswa yang lulus belum mencapai 75% sesuai yang ditargetkan.
d. Refleksi Tindakan
Penerapan model Promblem Based Learning pada mata pelajaran Akuntansi Perbankan Syariah di kelas XI Perbankan Syariah SMK Muhammadiyah 1 Metro telah berjalan dengan baik ditandai dengan terlaksananya tiap tahapan yang direncanakan. Akan tetapi keaktifan siswa dalam proses pembelajaran masih di bawah indikator dan hasil belajar siswa di bawah 75%.
Dalam proses pembelajaran, siswa kurang aktif bertanya. Hal ini disebabkan karena siswa kurang percaya diri untuk bertanya, serta pengaruh dari minimnya siswa yang hadir di kelas sinkron. Pada proses kerja kelompok sudah berjalan dengan baik, meskipun ada kelompok yang belum menuntaskan penyelesaian masalah.
Melihat kekurangan-kekurangan pada proses pembelajaran siklus 1, maka akan dilakukan beberapa tindakan, yaitu:
1) Melakukan diagnosis awal, baik kognitif maupun non kognitif
2) Mencoba model pembelajaran selain PBL
3) Melakukan analisis terhadap platform belajar yang sesuai untuk digunakan siswa

DAFTAR PUSTAKA

Agung A, Metodelogi Penelitian Pendidikan, Singaraja: Undiksha Singaraja, 2010
Akmar, S. N., Sew, Lee. Integrating Problem-Based Learning (PBL) in Mathematics Method Course. Spring. Vol. 4, no. 2
Hasibuan dan Moedjiono, Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya,1986
Kunandar, Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas Sebagai Pengembangan Profesi Guru, Jakarta:PT. Rajawali Pers, 2010 M.
Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. 2006. Peneilitian Tindakan Kelas.
Jakarta: Bina Aksara.
Kemmis, S. and McTaggart, R. 1988. The Action Researh Reader. Victoria,
Deakin University Press
AC,Ali Mauludi,Akuntansi Perbankan Syariah,Jakarta: Alim’s Pulishing, 2014.
IAI, Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Akuntansi Perbankan Syariah,Jakarta:
Salemba Empat,2002.
UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

LAMPIRAN
A. RPP SIKLUS 1 DAN 2
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Nama Sekolah : SMK Muhammadiyah 1 Metro
Mata Pelajaran : Akuntansi Perbankan Syariah
Kompetensi Keahlian : Perbankan Syariah
Kelas/Semester : XI/1
Tahun Pelajaran : 2020/2021
Materi Pokok : Akuntansi Tabungan Bank Syariah
Alokasi Waktu : 12 x 45 Menit

A. Kompetensi Inti
3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Perbankan Syariah pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
4. Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Perbankan Syariah. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta.
B. Kompetensi Dasar
3.4 Menganalisis pencatatan transaksi tabungan pada bank syariah
4.4 Mencatat transaksi tabungan pada bank syariah

C. Indikator Pencapaian Kompetensi
1. IPK Pada KD Pengetahuan
3.4.1 Menganalisis pencatatan transaksi tabungan mudharabah pada bank syariah
3.4.2Menganalisis pencatatan transaksi tabungan wadiah pada bank syariah
2. IPK Pada KD Keterampilan
4.4.1 Mencatat transaksi tabungan mudharabah pada bank syariah
4.4.2 Mencatat transaksi tabungan wadiah pada bank syariah
D. Tujuan Pembelajaran
3.4 Dengan menggunakan aplikasi dan platform digital siswa mengakses informasi dan berdiskusi untuk memahami pencatatan transaksi tabungan mudharabah dan tabungan wadiah pada bank syariah secara benar
4.4 Dengan berlatih langsung pengerjaan soal secara terbimbing, siswa dapat melakukan pencatatan transaksi tabungan mudharabah dan tabungan wadiah pada bank syariah dengan tepat dan bertanggung jawab
E. Materi Pembelajaran
Akuntansi Tabungan Bank Syariah

F. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran : Pendekatan Scientific (Saintifik)
Model Pembelajaran : Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Metode Pembelajaran : Presentasi, Diskusi, Menggali Informasi Digital, Penyelesaian Masalah

G. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama (6 x 45 Menit)

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI WAKTU
Pendahuluan 1. Guru membuka kelas dengan mengucap salam pada google claoud meetings. (menumbuhkan karakter religius)
2. Membaca basmallah dan berdoa bersama dari tempat keberadaan masing-masing. (menumbuhkan karakter religius)
3. Mempersiapkan HP/laptop, serta koneksi internet untuk melaksanakan kegiatan belajar online.
4. Guru menginstruksikan pada siswa untuk membaca al-quran dan membaca kisah singkat perjuangan Jenderal Sudirman pada tautan yang diunggah pada grup wahtsapp. (menumbuhkan karakter gemar membaca dan tuntutan keterampilan abad 21 tentang literasi, menumbuhkan karakter nasionalis, serta karakter religius)
5. Guru menginstruksikan siswa untuk mengisi presensi pada google classroom.
6. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
7. Guru menjelaskan teknik penilaian yang akan dilakukan.
8. Guru memberikan pre test pada google classroom
9. Guru membentuk kelompok peserta didik yang heterogen.
(Menumbuhan karakter demokratis)
30 menit
Kegiatan Inti Mengidentifikasi masalah; (Mengamati)
1. Guru mengunggah berkas pada google classroom berupa slide power point yang berisi apersepsi dan materi akuntansi tabungan mudharabah
2. Secara individu peserta didik mengakses dan mencermati slide yang telah diunggah
3. Guru menugaskan peserta didik untuk mencari referensi tambahan pada internet tentang akuntansi tabungan mudharabah. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; belajar mandiri)
4. Peserta didik berdiskusi dengan guru dan sesama peserta didik tentang akuntansi tabungan mudharabah pada grup whatsapp. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; berpikir krtitis)

Menetapkan masalah; (Menanya)
5. Guru mengunggah slide power point yang berisi soal/masalah tentang akuntansi tabungan mudharabah pada google classroom yang dibagi dalam beberapa kelompok.
6. Peserta didik mengakses permasalahan dan menentukan letak permasalahan yang harus diselesaikan berdasarkan permasalahan yang diberikan secara kolektif sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan
7. Peserta didik menanyakan terkait hal-hal yang belum dipahami

Mengembangkan solusi; (Mengumpulkan Informasi)
8. Peserta didik berdiskusi di grup whatsapp untuk mengecek pandangan dan bertukar pikiran dengan teman kelompoknya mengenai permasalahan yang sedang dibahas berdasarkan literatur dan pengetahuan yang dimilikinya.
9. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok tentang solusi yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi (menumbuhkan karakter mandiri dan kerjasama)

Melakukan tindakan strategis; (Menalar)
10. Salah satu kelompok tampil untuk mempresentasikan hasil diskusinya dalam pertemuan daring di aplikasi zoom cloud meetings. (menumbuhkan karakter komunikatif).
11. Peserta didik di kelompok lain memperhatikan proses presentasi.
12. Guru mempersilahkan peserta didik lain untuk bertepuk tangan setelah presentasi selesai (menunbuhkan karakter menghargai prestasi).

Melihat ulang dan mengevaluasi; (mengkomunikasikan)
13. Peserta didik dipersilahkan untuk memberikan komentar terhadap hasil presentasi temannya dan dipersilahkan mengoreksi bila ada kesalahan. 210 menit
Penutup 1. Guru menginstruksikan peserta didik untuk membuat rangkuman materi belajar dengan metode tanya jawab dan mengunggahnya pada google classroom di tautan yang sudah disediakan.
2. Guru melakukan refleksi sebagai penguatan dari kegiatan pembelajaran hari ini
3. Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran di aplikasi zoom calud meetings, dan memotivasi peserta didik untuk tetap semangat belajar dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi tantangan abad 21
4. Guru memberikan post test pada google classroom
5. Guru memberikan informasi materi pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.
6. Guru mempersilahkan siswa untuk berdoa/ menutup kegiatan pembelajaran hari ini, serta mengucapkan kalimat hamdallah.
(menumbuhkan karakter religius) 30 menit

Pertemuan Kedua (6 x 45 Menit)

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI WAKTU
Pendahuluan 1. Guru membuka kelas dengan mengucap salam pada grup wahatshapp. (menumbuhkan karakter religius)
2. Membaca basmallah dan berdoa bersama dari tempat keberadaan masing-masing. (menumbuhkan karakter religius)
3. Mempersiapkan HP/laptop, serta koneksi internet untuk melaksanakan kegiatan belajar online.
4. Guru menginstruksikan pada siswa untuk membaca al-quran dan membaca kisah singkat perjuangan Imam Bonjol pada tautan yang diunggah pada grup wahtsapp. (menumbuhkan karakter gemar membaca dan tuntutan keterampilan abad 21 tentang literasi, menumbuhkan karakter nasionalis, serta karakter religius)
5. Guru menginstruksikan siswa untuk mengisi presensi pada google classroom.
6. Guru memberikan pre test pada google classroom
30 menit
Kegiatan Inti Mengidentifikasi masalah; (Mengamati)
1. Guru mengunggah berkas pada google classroom berupa slide power point yang berisi apersepsi dan materi akuntansi tabungan wadiah
2. Secara individu peserta didik mengakses dan mencermati slide yang telah diunggah
3. Guru menugaskan peserta didik untuk mencari referensi tambahan pada internet tentang akuntansi tabungan wadiah. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; belajar mandiri)
4. Peserta didik berdiskusi dengan guru dan sesama peserta didik tentang akuntansi tabungan wadiah pada grup whatsapp. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; berpikir krtitis)

Menetapkan masalah; (Menanya)
5. Guru mengunggah slide power point yang berisi soal/masalah tentang akuntansi tabungan wadiah pada google classroom yang dibagi dalam beberapa kelompok.
6. Peserta didik mengakses permasalahan dan menentukan letak permasalahan yang harus diselesaikan berdasarkan permasalahan yang diberikan secara kolektif sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan
7. Siswa menanyakan terkait hal-hal yang belum dipahami

Mengembangkan solusi; (Mengumpulkan Informasi)
8. Peserta didik berdiskusi di grup whatsapp untuk mengecek pandangan dan bertukar pikiran dengan teman kelompoknya mengenai permasalahan yang sedang dibahas berdasarkan literatur dan pengetahuan yang dimilikinya.
9. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok tentang solusi yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi (menumbuhkan karakter mandiri dan kerjasama)

Melakukan tindakan strategis; (Menalar)
10. Salah satu kelompok tampil untuk mempresentasikan hasil diskusinya dalam pertemuan daring di aplikasi zoom cloud meetings. (menumbuhkan karakter komunikatif).
11. Peserta didik di kelompok lain memperhatikan proses presentasi.
12. Guru mempersilahkan peserta didik lain untuk bertepuk tangan setelah presentasi selesai (menunbuhkan karakter menghargai prestasi).

Melihat ulang dan mengevaluasi; (mengkomunikasikan)
13. Peserta didik dipersilahkan untuk memberikan komentar terhadap hasil presentasi temannya dan dipersilahkan mengoreksi bila ada kesalahan. 210 menit
Penutup 1. Guru menginstruksikan peserta didik untuk membuat rangkuman materi belajar dengan metode tanya jawab dan mengunggahnya pada google classroom di tautan yang sudah disediakan.
2. Guru melakukan refleksi sebagai penguatan dari kegiatan pembelajaran hari ini
3. Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran di aplikasi zoom calud meetings, dan memotivasi peserta didik untuk tetap semangat belajar dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi tantangan abad 21
4. Guru memberikan post test pada google classroom
5. Guru memberikan informasi materi pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.
6. Guru mempersilahkan siswa untuk berdoa/ menutup kegiatan pembelajaran hari ini, serta mengucapkan kalimat hamdallah.
(menumbuhkan karakter religius) 30 menit

H. Alat/Bahan, dan Media Pembelajaran
1. Media Pembelajaran
Whatsapp, google class room, zoom claud meetings, platform digital pendukung
2. Alat Pembelajaran
a. Handphone/gawai
b. Laptop
3. Bahan Pembelajaran
Slide power point, buku akuntansi perbankan syariah

I. Sumber Pembelajaran
a. Buku Akuntansi Bank Syariah
b. Internet, dan sumber belajar lainnya

J. Penilaian pembelajaran, Remedial, dan Pengayaan
1. Penilaian Pembelajaran
Kompetensi Dasar Teknik Penilaian Instrumen
3.4 Menganalisis pencatatan transaksi tabungan pada bank syariah Tes tertulis 1. Soal tes tertulis
4.4 Mencatat transaksi tabungan pada bank syariah Penugasan unjuk kerja 1. Lembar tugas dan Lembar penilaian tugas

2. Pembelajaran remedial dan pengayaan
a. Pembelajaran Remedial.
• Remedial test diberikan kepada siswa yang mendapatkan nilai < 75 (untuk pengetahuan dan keterampilan), dengan catatan jumlah siswa yang remedialnya sebanyak maksimal 30% dari jumlah seluruh siswa di kelas.
• Dan jika jumlah siswa yang remedial mencapai 50% maka diadakan remedial teaching terlebih dahulu, lalu dilanjutkan remedial tes
b. Pembelajaran Pengayaan.
• Pembelajaran pengayaan diberikan/ditawarkan kepada siswa yang mendapatkan nilai ≥ 75 sebagai bentuk pendalaman terhadap materi yang diberikan.

Mengetahui, Metro,
Kepala SMK Muhammadiyah 1 Metro Guru Mata Pelajaran

Rohaniya, S.Pd., M.Pd Muklis Saputra, S.E.Sy
NIP. 19790906 200604 2 020 NBM. 1.311.745

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
( RPP )

Nama Sekolah : SMK Muhammadiyah 1 Metro
Mata Pelajaran : Akuntansi Perbankan Syariah
Kompetensi Keahlian : Perbankan Syariah
Kelas/Semester : XI/1
Tahun Pelajaran : 2020/2021
Materi Pokok : Akuntansi Giro Bank Syariah
Alokasi Waktu : 12 x 45 Menit

H. Kompetensi Inti
3. Memahami, menerapkan, menganalisis, dan mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, konseptual, operasional dasar, dan metakognitif sesuai dengan bidang dan lingkup kerja Perbankan Syariah pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dalam konteks pengembangan potensi diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan internasional.
4. Melaksanakan tugas spesifik dengan menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah sesuai dengan bidang kerja Perbankan Syariah. Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah, serta.
I. Kompetensi Dasar
3.5 Menganalisis pencatatan transaksi giro pada bank syariah
4.5 Mencatat transaksi giro pada bank syariah

J. Indikator Pencapaian Kompetensi
2. IPK Pada KD Pengetahuan
3.5.1 Menganalisis transaksi giro pada bank syariah
3.5.2 Menganalisis pencatatan transaksi giro pada bank syariah
3. IPK Pada KD Keterampilan
4.5.1 Meninjau transaksi giro pada bank syariah
4.5.2 Melakukan pencatatan transaksi giro pada bank syariah
K. Tujuan Pembelajaran
3.5 Dengan menggunakan aplikasi dan platform digital siswa mengakses informasi dan berdiskusi untuk memahami pencatatan transaksi giro pada bank syariah secara benar
4.5 Dengan berlatih langsung pengerjaan soal secara terbimbing, siswa dapat melakukan pencatatan transaksi giro pada bank syariah dengan tepat dan bertanggung jawab
.
L. Materi Pembelajaran
Akuntansi Giro Bank Syariah

M. Pendekatan, Model, dan Metode Pembelajaran
Pendekatan pembelajaran : Pendekatan Scientific (Saintifik)
Model Pembelajaran : Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL)
Metode Pembelajaran : Presentasi, Diskusi, Menggali Informasi Digital, Penyelesaian Masalah

N. Kegiatan Pembelajaran

Pertemuan Pertama (6 x 45 Menit)

KEGIATAN DESKRIPSI KEGIATAN ALOKASI WAKTU
Pendahuluan 1. Guru membuka kelas dengan mengucap salam pada zoom claoud meetings. (menumbuhkan karakter religius)
2. Membaca basmallah dan berdoa bersama dari tempat keberadaan masing-masing. (menumbuhkan karakter religius)
3. Mempersiapkan HP/laptop, serta koneksi internet untuk melaksanakan kegiatan belajar online.
4. Guru menginstruksikan pada siswa untuk membaca al-quran dan membaca kisah singkat perjuangan R.A. Kartini pada tautan yang diunggah pada grup wahtsapp/google classroom. (menumbuhkan karakter gemar membaca dan tuntutan keterampilan abad 21 tentang literasi, menumbuhkan karakter nasionalis, serta karakter religius)
5. Guru menginstruksikan siswa untuk mengisi presensi pada google classroom.
6. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai
7. Guru menjelaskan teknik penilaian yang akan dilakukan.
8. Guru memberikan pre test pada google classroom
9. Guru membentuk kelompok peserta didik yang heterogen.
(Menumbuhan karakter demokratis)
30 menit
Kegiatan Inti Mengidentifikasi masalah; (Mengamati)
14. Guru mengunggah berkas pada google classroom berupa slide power point yang berisi apersepsi dan materi transaksi giro pada bank syariah
15. Secara individu peserta didik mengakses dan mencermati slide yang telah diunggah
16. Guru menugaskan peserta didik untuk mencari referensi tambahan pada internet tentang transaksi giro pada bank syariah. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; belajar mandiri)
17. Peserta didik berdiskusi dengan guru dan sesama peserta didik tentang transaksi giro pada bank syariah pada grup whatsapp. (Menumbuhkan kecakapan abad 21; berpikir krtitis)

Menetapkan masalah; (Menanya)
18. Guru mengunggah slide power point yang berisi soal/masalah tentang transaksi giro pada bank syariah pada google classroom yang dibagi dalam beberapa kelompok.
19. Peserta didik mengakses permasalahan dan menentukan letak permasalahan yang harus diselesaikan berdasarkan permasalahan yang diberikan secara kolektif sesuai dengan kelompok yang sudah ditentukan
20. Peserta didik menanyakan terkait hal-hal yang belum dipahami

Mengembangkan solusi; (Mengumpulkan Informasi)
21. Peserta didik berdiskusi di grup whatsapp untuk mengecek pandangan dan bertukar pikiran dengan teman kelompoknya mengenai permasalahan yang sedang dibahas berdasarkan literatur dan pengetahuan yang dimilikinya.
22. Peserta didik berdiskusi dalam kelompok tentang solusi yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi (menumbuhkan karakter mandiri dan kerjasama)

Melakukan tindakan strategis; (Menalar)
23. Salah satu kelompok tampil untuk mempresentasikan hasil diskusinya dalam pertemuan daring di aplikasi zoom cloud meetings. (menumbuhkan karakter komunikatif).
24. Peserta didik di kelompok lain memperhatikan proses presentasi.
25. Guru mempersilahkan peserta didik lain untuk bertepuk tangan setelah presentasi selesai (menunbuhkan karakter menghargai prestasi).

Melihat ulang dan mengevaluasi; (mengkomunikasikan)
26. Peserta didik dipersilahkan untuk memberikan komentar terhadap hasil presentasi temannya dan dipersilahkan mengoreksi bila ada kesalahan. 210 menit
Penutup 7. Guru menginstruksikan peserta didik untuk membuat rangkuman materi belajar dengan metode tanya jawab dan mengunggahnya pada google classroom di tautan yang sudah disediakan.
8. Guru melakukan refleksi sebagai penguatan dari kegiatan pembelajaran hari ini
9. Guru mengakhiri kegiatan pembelajaran di aplikasi zoom calud meetings, dan memotivasi peserta didik untuk tetap semangat belajar dalam rangka mempersiapkan diri menghadapi tantangan abad 21
10. Guru memberikan post test pada google classroom
11. Guru memberikan informasi materi pembelajaran untuk pertemuan selanjutnya.
12. Guru mempersilahkan siswa untuk berdoa/ menutup kegiatan pembelajaran hari ini, serta mengucapkan kalimat hamdallah.
(menumbuhkan karakter religius) 30 menit

K. Alat/Bahan, dan Media Pembelajaran
1. Media Pembelajaran
Whatsapp, google class room, zoom claud meetings, platform digital pendukung
2. Alat Pembelajaran
c. Handphone/gawai
d. Laptop
3. Bahan Pembelajaran
Slide power point, buku akuntansi bank syariah

L. Sumber Pembelajaran
a. Buku Akuntansi Bank Syariah
b. Internet, dan sumber belajar lainnya

M. Penilaian pembelajaran, Remedial, dan Pengayaan
1. Penilaian Pembelajaran
Kompetensi Dasar Teknik Penilaian Instrumen
3.5 Menganalisis pencatatan transaksi giro pada bank syariah Tes tertulis 2. Soal tes tertulis
4.5 Mencatat transaksi tabungan pada bank syariah Penugasan unjuk kerja 2. Lembar tugas dan Lembar penilaian tugas

2. Pembelajaran remedial dan pengayaan
a. Pembelajaran Remedial.
• Remedial test diberikan kepada siswa yang mendapatkan nilai < 75 (untuk pengetahuan dan keterampilan), dengan catatan jumlah siswa yang remedialnya sebanyak maksimal 30% dari jumlah seluruh siswa di kelas.
• Dan jika jumlah siswa yang remedial mencapai 50% maka diadakan remedial teaching terlebih dahulu, lalu dilanjutkan remedial tes
b. Pembelajaran Pengayaan.
• Pembelajaran pengayaan diberikan/ditawarkan kepada siswa yang mendapatkan nilai ≥ 75 sebagai bentuk pendalaman terhadap materi yang diberikan

Mengetahui, Metro,
Kepala SMK Muhammadiyah 1 Metro Guru Mata Pelajaran

Rohaniya, S.Pd., M.Pd Muklis Saputra, S.E.Sy
NIP. 19790906 200604 2 020 NBM. 1.311.745

B. Instrumen Pengumpul Data
1. Instrumen Observasi
Kegiatan Pembelajaran
No Hal yang Diamati Skor
Siswa 1 2 3 4
1 Siswa aktif bertanya
2 Siswa aktif berdiskusi
3 Siswa aktif menyusun konsep
4 Siswa aktif menganalisis
5 Siswa aktif memecahkan masalah
6 Siswa mempresentasikan hasil pemecahan masalah
7 Siswa tenang mendengar penjelasan
8 Siswa fokus
9 Siswa antusias
10 Siswa mengerjakan semua tugas
11 Siswa mengerjakan tugas sesuai dengan instruksi
Total Skor = …

Keterangan Skor:
4 : Sangat Baik
3 : Baik
2 : Tidak Baik
1 : Sangat Tidak Baik

Skor tertinggi: 44

Predikat:
Nilai Predikat
86 – 100 Amat Baik ( A)
70 – 85 Baik (B)
< 70 Kurang (K)

2. Instrumen Tes

Soal Pilihan Ganda
Pilihlah jawaban yang paling tepat dari pilihan jawaban yang disediakan!
1. Wadiah diadopsi dalam bentuk giro wadiah dengan prinsip …
a. Titipan d. Sewa
b. Jual-bel e. Penyertaan modal
c. Bagi hasil

2. Dalam penerapan wadiah pada produk giro bank syariah, bank berperan sebagai …
a. Pihak yang mentitipkan d. Pihak pencatat
b. Muwaddi e. Pihak saksi
c. Pihak yang dititipi

3. Pada tanggal 1 Januari 2020, Aldo nasabah Bank Syariah Lestari (BSL) Cabang Surabaya melakukan penyetoran tunai giro wadiah sebesar Rp3.000.000,00 pada saat pembukaan rekening. Jurnal yang harus dicatat BSL Cabang Surabaya pada tanggal 1 Januari 2020 adalah …
a. Dr. Kas Rp300.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp300.000,00
b. Dr. Kas Rp3.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp3.000.000,00
c. Dr. Giro wadiah -Aldo Rp3.000.000,00
Cr. Kas – Aldo Rp3.000.000,00
d. Dr. Giro wadiah -Aldo Rp300.000,00
Cr. Kas – Aldo Rp300.000,00
e. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp3.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp3.000.000,00

4. Aldo (nasabah Bank Syariah Lestari (BSL) Cabang Surabaya) pada tanggal 10 Januari 2020 menerima transfer pada rekening gironya sebesar Rp2.000.000,00 dari Aldi nasabah Bank Syariah Lestari (BSL) Cabang Sidoarjo. Jurnal yang harus dicatat BSL Cabang Surabaya pada tanggal 10 Januari 2020 adalah …
a. Dr. RAK Cabang Sidoarjo Rp2.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp2.000.000,00
b. Dr. Kas Rp2.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp2.000.000,00
c. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp2.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp2.000.000,00
d. Dr. Giro wadiah -Aldo Rp2.000.000,00
Cr. Kas – Aldo Rp2.000.000,00
e. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp200.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp200.000,00
5. Aldo (nasabah Bank Syariah Lestari (BSL) Cabang Surabaya) pada tanggal 20 Januari 2020 menerima transfer pada rekening gironya sebesar Rp1.000.000,00 dari rekening giro nasabah Bank Syariah Mandiri (BSM). Jurnal yang harus dicatat BSL Cabang Surabaya pada tanggal 20 Januari 2020 adalah …
a. Dr. Kas Rp1.000.000,00
Cr. Giro pada BI Rp1.000.000,00
b. Dr. Giro wadiah – Aldo Rp1.000.000,00
Cr. Giro pada BI Rp1.000.000,00
c. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp1.000.000,00
d. Dr. RAK Cabang Sidoarjo Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp1.000.000,00
e. Dr. Giro pada BI Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp1.000.000,00

6. Aldo (nasabah Bank Syariah Lestari (BSL) Cabang Surabaya) pada tanggal 25 Januari 2020 menerima bonus dari giro wadiahnya di BSL sebesar Rp20.000,00. Jurnal yang harus dicatat BSL Cabang Surabaya pada tanggal 25 Januari 2020 adalah …
a. Dr. Kas Rp20.000,00
Cr. Giro pada BI Rp20.000,00
b. Dr. Kas Rp1.000.000,00
Cr. Hak PK atas bagi hasil Rp20.000,00
c. Dr. Giro wadiah – Aldo 20.000,00
Cr. Giro pada BI Rp20.000,00
d. Dr. Bonus wadiah Rp20.000,00
Cr. Giro wadiah – Aldo Rp20.000,00
e. Dr. bonus wadiah Rp20.000,00
Cr. Kas Rp20.000,00

7. Pada tanggal 3 April 2020, Abdullah nasabah BSK Cabang Surabaya menarik tunai Giro wadiah dengan cek sebesar Rp1.000.000,00. Jurnal yang harus dibuat BSK Cabang Surabaya adalah …
a. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp1.000.000,00
Cr. Kas Rp1.000.000,00
b. Dr. Kas Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp1.000.000,00
c. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp1.000.000,00
d. Dr. Giro pada BI Rp1.000.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp1.000.000,00
e. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp1.000.000,00
Cr. Giro pada BI – Abdullah Rp1.000.000,00
8. Pada tanggal 10 April 2020, Abdullah nasabah BSK Cabang Surabaya menggunakan bilyet giro untuk mentransfer sebesar Rp200.000,00 dari rekeningnya ke rekening nasabah BSK Cab. Sidoarjo. Jurnal yang harus dibuat BSK Cabang Surabaya adalah …
a. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp200.000,00
Cr. Kas Rp200.000,00
b. Dr. Kas Rp200.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp200.000,00
c. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp200.000,00
Cr. RAK Cabang Sidoarjo Rp200.000,00
d. Dr. Giro pada BI Rp200.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp200.000,00
e. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp200.000,00
Cr. Giro pada BI – Abdullah Rp200.000,00

9. Pada tanggal 15 April 2020, Abdullah nasabah BSK Cabang Surabaya menggunakan bilyet giro untuk mentransfer sebesar Rp300.000,00 dari rekeningnya ke rekening giro nasabah BSP. Jurnal yang harus dibuat BSK Cabang Surabaya adalah …
a. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp300.000,00
Cr. Kas Rp300.000,00
b. Dr. Kas Rp300.000,00
Cr. Giro wadiah – Abdullah Rp300.000,00
c. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp300.000,00
Cr. RAK Cabang Sidoarjo Rp300.000,00
d. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp300.000,00
Cr. Giro pada BI Rp300.000,00
e. Dr. RAK Cabang Surabaya Rp300.000,00
Cr. Giro pada BI – Abdullah Rp300.000,00

10. Pada tanggal 15 April 2020, Abdullah nasabah BSK Cabang Surabaya mendapatkan potongan giro wadiah untuk biaya administrasi tabungan sebesar Rp2.000,00 dan pajak sebesar Rp4.000,00. Pajak dihitung 20% dari bonus yang diterima Abdullah. Jurnal yang harus dibuat BSK Cabang Surabaya adalah …
a. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp4.000,00
Cr. Pendapatan Adm. Tab. Mudharabah Rp4.000,00
Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp2.000,00
Cr. Titipan Kas Negara – Pajak tabungan Rp2.000,00
b. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp2.000,00
Cr. Pendapatan Adm. Tab. Mudharabah Rp2.000,00
Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp4.000,00
Cr. Titipan Kas Negara – Pajak tabungan Rp4.000,00
c. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp6.000,00
Cr. Pendapatan Adm. Tab. Mudharabah Rp6.000,00
Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp6.000,00
Cr. Titipan Kas Negara – Pajak tabungan Rp6.000,00
d. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp2.000,00
Cr. Pendapatan Adm. Tab. Mudharabah Rp4.000,00
Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp4.000,00
Cr. Titipan Kas Negara – Pajak tabungan Rp2.000,00
e. Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp2.000,00
Cr. Pendapatan Adm. Tab. Mudharabah Rp6.000,00
Dr. Giro wadiah – Abdullah Rp4.000,00
Cr. Titipan Kas Negara – Pajak tabungan Rp6.000,00

KUNCI JAWABAN DAN PEDOMAN PENSKORAN
SOAL PILIHAN GANDA

Nomor Soal Jawaban Skor
Benar Salah
1 A 1 0
2 C 1 0
3 B 1 0
4 A 1 0
5 E 1 0
6 D 1 0
7 A 1 0
8 C 1 0
9 D 1 0
10 B 1 0
Skor Maksimal 10

Pedoman penilaian:

ANALISIS HASIL PENILAIAN

No SKOR Nomor Soal JMLH
SKOR Ketercapaian (%) Ketuntasan Belajar
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Skor Maksimum 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10
Nama Siswa Skor Siswa Ya Tidak
1 AHMAD SAMBA WIJAYA
2 ALFI AZIZATUS SHOLEKHA
3 ANDI KURNIAWAN
4 ANDRE KURNIAWAN
5 ASTRID MEYLITA
6 DINA USWATI R.
7 EDWIN MAULANA
8 EGA RAMADANI
9 ELIANA DWI RAHMAWATI
10 IKHSAN HANDIKA PUTRA
11 INTAN FEBIYANI
12 IRMA SAPTAWATI NINGSIH
13 IZMI FAJARIKA
14 LIA AYU WULANDARI
15 NITA SAFITRI
16 RARA PRESILA
17 RENI FITRIANA PUTRI
18 RESTIKE WIRANATA PUTRI
19 RICHA ANDRIANI
20 SANTI
21 SHINTA AMELIA
22 VINDI SEPTIANI

Jumlah Skor
Jumlah Skor Maksimal
Skor Ketercapaian (%)

Hasil Analisis :
1. Ketuntasan Belajar
a. Perorangan
Siswa dinyatakan tuntas dalam belajar jika skor yang diperoleh telah mencapai nilai ≥ 75.
Jumlah siswa seluruhnya : … orang
Jumlah siswa yang telah tuntas belajar : … orang
Prosentase jumlah siswa yang telah tuntas belajar : … %
b. Klasikal
Siswa dinyatakan tuntas dalam belajar secara klasikal jika 75% atau lebih dari jumlah siswa seluruhnya telah tuntas belajar.
2. Kesimpulan
a. Perlu perbaikan klasikal untuk soal nomor : …………
Soal perlu perbaikan secara klasikal jika scor ketercapaian soal tersebut secara klasikal kurang dari 75%.

b. Perlu perbaikan individual siswa :
1. …………………………….
2. …………………………….
3. …………………………….
4. …………………………….
5. …………………………….
6. …………………………….

Mengetahui, Metro,
Kepala SMK Muhammadiyah 1 Metro Guru Mata Pelajaran

Rohaniya, S.Pd., M.Pd Muklis Saputra, S.E.Sy.
NIP. 19790906 200604 2 020 NBM. 1.311.745


Sharing is caring
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
Tags:

0 thoughts on “PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK) PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING DALAM PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL PEMBELAJARAN AKUNTANSI PERBANKAN SYARIAH PADA KELAS XI PERBANKAN SYARIAH SMK MUHAMMADIYAH 1 METRO TAHUN PELAJARAN 2020/2021

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

kami ada di facebook